Tuesday, 6 October 2015

Pedoman Pembedaan Roh St. Ignatius

PPR adalah pedoman yang ditulis oleh St. Ignatius dalam buku LR untuk membantu pelaku retret dan pembimbingnya membeda-bedakan gerakan-gerakan rohani yang muncul dalam perjalanan retret seseorang. St. Ignatius membagi PPR menjadi dua, yakni PPR I yang lebih sesuai dengan dinamika Minggu Pertama LR dan PPR II yang lebih sesuai dengan Minggu Kedua. PPR I terdiri dari 14 pedoman dan PPR II terdiri dari 8 pedoman. Meskipun PPR ini ditulis terutama untuk membantu pelaku retret, namun sebenarnya bisa juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari di luar retret. Itulah sebabnya PPR ini diletakkan di bagian akhir buku LR dan tidak tergantung mutlak pada dinamika retret yang dijelaskan dalam buku itu. Keunggulan PPR St. Ignatius adalah bahwa dia mampu merumuskannya secara singkat dan padat suatu pedoman praktis untuk membeda-bedakan roh yang merupakan tradisi spiritualitas Kristiani sejak zaman gerakan kerahiban pada abad ketiga dan keempat. Selain itu pedoman itu ditulisnya berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri bergulat dengan gerakan-gerakan batin di dalam dirinya untuk menemukan dan mengikuti kehendak Tuhan sendiri.
Dalam autobiografinya Inigo mengatakan bahwa dirinya belajar membeda-bedakan roh pada saat pertobatannya di Loyola. Saat itu dia berada dalam proses pemulihan kakinya yang harus dioperasi setelah cedera serius dalam pertempuran di Pamplona. Sebagai seorang ksatria dia masih membayangkan dirinya mengabdikan diri kepada seorang putri. Namun dari bacaan-bacaan rohaninya dia juga mulai membayangkan dirinya mengabdi Tuhan seperti St. Fransiskus Asisi dan St. Dominikus. Pelan-pelan dia merasakan perbedaan antara memikirkan hal-hal duniawi dan hal-hal rohani seperti keinginan untuk mengabdi Tuhan dengan berziarah ke Yerusalem, dan perasaan-perasaan yang muncul setelah memikirkan hal itu. Memikirkan hal-hal duniawi memang membuatnya merasa senang sekali, tetapi sesudahnya dia merasa kering dan tidak puas. Sebaliknya bila berpikir untuk berziarah ke Yerusalem, dia merasa terhibur pada saat memikirkannya dan sesudahnya. Pada suatu saat “matanya dibuka sedikit, dan ia mulai merasa heran dengan perbedaan itu dan mengadakan refleksi tentang hal itu.“ (Wasiat dan Petuah St. Ignatius, no. 8). Pada saat itulah Inigo mulai menyadari perbedaan roh-roh yang menggerakkan perasaan dalam batinnya: satu dari setan, yang lain dari Allah.
Menurut P. Timothy M. Gallagher, OMV dalam bukunya The Discernment of Spirits, pada momen “matanya dibuka sedikit” itulah Ignatius mulai belajar membeda-bedakan roh. Dari pengalaman itu Ignatius mulai merumuskan tiga langkah dasar yang perlu untuk membeda-bedakan roh yakni, “menjadi sadar, memahami, danmengambil tindakan (menerima, menolak).” (hlm. 15). Sejak saat itu Ignatius belajar untuk menolak gerakan batin yang berasal dari roh jahat dan menerima gerakan dari Tuhan sendiri. Dari pengalamannya membeda-bedakan roh inilah dia menjadi unggul dalam pengabdian kepada Tuhan untuk menolong jiwa-jiwa yang mengubah hidupnya dari seorang ksatria duniawi menjadi pelayan Tuhan yang setia. Dari pengalaman personalnya membeda-bedakan roh inilah dia menuliskan PPR yang bisa menjadi tuntunan praktis bagi banyak orang yang ingin menempuh jalan yang sama seperti dia.

Tiga Langkah Dasar dalam Pedoman Pembedaan Roh

Yang menarik adalah bahwa tiga langkah dasar untuk membeda-bedakan roh yang didapatkan Ignatius dari pengalaman rohaninya di Loyola itulah yang ditulisnya dalam bagian penjelasan atas judul PPR I. Dia menulis, “Pedoman-pedoman ini diberikan supaya menjadi sadar dan mengenal berbagai gerak yang timbul dalam jiwa: yang baik untuk diterima, yang buruk dibuang.“ (LR 313). Dari penjelasan Ignatius atas judul PPR I ini kita bisa mengenali ketiga langkah ini dari kata-kata kerja yang digunakannya, yakni: menjadi sadar, mengenal/memahami, menerima-membuang. Maka inilah paradigma dasar yang harus kita perhatikan dalam membeda-bedakan roh:
MENJADI SADAR
MENGENAL/MEMAHAMI
MENGAMBIL TINDAKAN (MENERIMA/MEMBUANG)
Secara singkat ketiga langkah itu bisa dijelaskan demikian: MENJADI SADAR adalah usaha untuk mencatat apa yang terjadi dalam pengalaman rohani kita, apa yang secara rohani bergerak dalam hati dan pikiran kita. MEMAHAMI adalah refleksi atas gerakan-gerakan yang sudah kita sadari itu yang memungkinkan kita mengenali mana dari gerakan-gerakan itu yang berasal dari Allah dan mana yang tidak. MENGAMBIL TINDAKAN adalah untuk menerima dan menghidupi gerakan yang kita kenali berasal dari Allah dan untuk membuang dari kehidupan kita gerakan yang tidak berasal dari Allah. Ini adalah tiga langkah yang diandaikan oleh Ignatius, ketika selanjutnya dia membicarakan tentang diskresi atau pembedaan roh.

Keberanian untuk Menjadi Sadar secara Rohani

Dari ketiga langkah di atas, langkah yang paling penting adalah langkah pertama, yakni menjadi sadar akan adanya gerakan-gerakan batin/rohani dalam diri kita. Paling penting, karena kesadaran rohani ini merupakan pintu utama untuk masuk ke dalam segala sesuatu mengenai diskresi atau pembedaan roh. Namun, menurut P. Tim Gallagher, justru tahap ini tidak bisa begitu saja diandaikan karena manusia punya kecenderungan sebaliknya, yakni untuk berada “di luar“ dirinya daripada dengan tenang dan hening masuk ke ruang batinnya sendiri. Mengapa mencapai kesadaran rohani itu begitu sulit? Mengapa kita secara spontan cenderung untuk hidup lebih “di luar“ daripada “di dalam“ diri kita sedemikian sehingga kalau kita tidak berusaha keras untuk menjadi sadar akan apa yang bergerak “di dalam“ diri kita, kesadaran rohani itu tidak kita dapatkan? Pertanyaan-pertanyaan dasar inilah yang harus kita jawab dulu agar kita bisa menemukan relevansi PPR St. Ignatius bagi generasi digital zaman ini.
Mungkin kita berpikir bahwa ketergantungan generasi digital pada mobile gadgetseperti ponsel, Blackberry, iPhone, dan tablet, adalah penyebab utama kesulitan untuk menjadi tenang dan hening agar dapat masuk dalam ruang batinnya sendiri. Keberadaan piranti-piranti itu seolah-olah menjadi pengisi ruang dan waktu hening dalam diri kita yang membuat kita selalu berada “di luar“ diri kita. Keinginan untuk selalu terhubung dengan sahabat-sahabat dan kenalan-kenalan kita yang jauh, keinginan menggunakan waktu luang untuk mengklik aplikasi yang menarik minat kita, dan keberadaan mobile gadget di genggaman kita membuat batin kita selalu sibuk dan tidak pernah menjadi tenang dan hening. Situasi inilah yang membuat hidup generasi modern yang telah menjadi begitu cepat dengan kemajuan teknologi, menjadi semakin cepat dengan perkembangan teknologi digital. Semakin banyak dan bermacam-macam piranti-piranti digital yang selalu mengisi ruang tenang hidup kita. Generasi digital semakin sulit untuk masuk “ke dalam“ ruang batinnya sendiri.
Menurut P. Tim Gallagher, keinginan untuk berada “di luar“ diri dan keengganan untuk masuk “ke dalam” diri sendiri bukanlah masalah yang khas bagi generasi digital. Masalah ini sudah muncul bahkan pada zaman St. Agustinus pada abad keempat yang mengatakan dalam bukunya, Confession, demikian, “Engkau berada di dalam, dan aku di luar… Engkau memanggil, Engkau berteriak, dan Engkau memecahkan ketulianku. Engkau memancarkan cahaya seperti kilat, Engkau bersinar, dan Engkau membukakan kebutaanku.” (Confession, X.27). Ketika merefleksikan pengalaman pertobatannya, Agustinus menyadari betapa Allah begitu aktif bekerja di dalam dirinya, di dalam hatinya, di dalam dunia batinnya, sementara dia sendiri berada di luar dirinya, lebih tertarik pada dunia luar dan tidak menyadari karya Allah di dalam dirinya. Bukankah pengalaman Agustinus ini juga menjadi pengalaman kita untuk berada “di luar“ diri, hati, dan dunia batin kita?
Kenyataan ini mungkin sedikit menghibur kita sebagai generasi digital untuk melihat bahwa kesulitan untuk masuk “ke dalam” diri kita sendiri bukanlah masalah yang khas bagi generasi kita, tapi merupakan pergulatan manusia dari zaman ke zaman. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan pada zaman digital ini menjadi lebih berat, karena tawaran untuk lari “ke luar” dari diri kita menjadi lebih kuat dan beragam. Maka mungkin menarik untuk mendalami mengapa manusia dari zaman ke zaman cenderung untuk lari “ke luar“ dari dirinya sedemikian sehingga sulit untuk mencapai kesadaran rohani yang diperlukan bagi pembedaan roh dan perkembangan hidup rohaninya.
P. Tim Gallagher mengatakan bahwa salah satu sumber dari kecenderungan ini adalah  adanya perlawanan dalam diri kita untuk masuk “ke dalam” batin kita sendiri yang menghasilkan pengalihan (diversion) dalam hidup kita. Blaise Pascal melukiskan masalah pengalihan ini demikian, “Saya sering mengatakan bahwa satu-satunya penyebab ketidak-bahagiaan manusia adalah bahwa dia tidak tahu bagaimana bisa tinggal dengan tenang dalam kamarnya.” (dikutip dari Timothy M. Gallagher, The Discernment of Spirits, hlm. 19-20). Pengalihan, menurut Pascal, adalah suatu pelarian dari keterbatasan kita sendiri. Karena untuk hidup secara sadar “di dalam” batin kita itu berarti menjumpai keterbatasan manusiawi kita, maka lebih mudahlah untuk hidup “di luar” diri kita, untuk mengalihkan kesadaran kita pada apa yang ada di luar diri kita, meskipun hal ini tidak pernah membuat kita bahagia. Dalam hal ini bisa kita bayangkan bahwa teknologi digital menyediakan sarana-sarana baru untuk tinggal dalam taktik lama pengalihan ini. Inilah yang membuat kita tenggelam dalam ritual pengalihan yang tiada henti dalam zaman teknologi digital ini.
Lebih lanjut P. Tim Gallagher mengatakan bahwa hidup “di dalam” batin kita sendiri berarti menghadapi berbagai macam keterbatasan manusiawi. Bukankah kita secara ontologis merupakan makhluk yang terbatas? Dalam Kejadian Bab 3 tentang dosa manusia diungkapkan secara biblis-teologis bahwa kita membawa suatu luka historis yang berpengaruh pada keutuhan kemanusiaan kita. Masih ditambah lagi dengan luka-luka batin yang menumpuk secara psikologis selama bertahun-tahun dalam sejarah kehidupan pribadi kita yang membuat kita semakin berat untuk menghadapinya. Meskipun kita mengetahui adanya kasih Allah, kelemahan-kelemahan moral membuat hidup kita tidak tenang. Hal yang sama juga berlaku berkaitan dengan pergulatan rohani kita secara umum. Semua hal itu tidak mudah untuk kita hadapi, bahkan jika kita yakin bahwa kita dipahami dan diterima.
Inilah yang disebut oleh P. Tim Gallagher sebagai penolakan mendalam yang ada dalam diri kita. Dan kalau penolakan semacam ini ditambah dengan faktor teknologi digital yang memungkinkan kita lari dari diri kita, maka akan mudah dipahami kekuatan dorongan untuk mengalihkan kesadaran kita ke luar dari diri kita sendiri dan mengapa pengalihan itu menjadi sesuatu yang menarik bagi kita semua. Lalu apakah masih mungkin untuk melawan kecenderungan pengalihan semacam ini dan bagaimana caranya? Menurut P. Tim Gallagher, satu-satunya cara untuk melawan hal ini adalah untuk mengalami sendiri kebenaran bahwa ada “terang yang bercahaya dalam kegelapan” (Yoh. 1:5), dan bahwa berada “di dalam” batin sendiri berarti berjumpa dengan kehadiran yang personal, kasih dan kekuatan yang menyembuhkan dari penyelamat kita, Yesus Kristus. Hanya dengan cara inilah penolakan mendalam dan pengalihan itu mungkin mulai menghilang dalam hidup kita.
Maka keberanian terus-menerus untuk menghadapi tantangan inilah yang memungkinkan proses pembedaan roh. Ignatius sendiri pada bagian penjelasan atas judul PPR mengundang kita untuk menyadari hal ini sejak awal proses pembedaan roh. Kalau kita ingin menjadi orang yang mampu membeda-bedakan gerakan-gerakan batin dalam diri kita seperti Ignatius, maka inilah pilihan awal dan paling mendasar yang harus kita lakukan. Dan pengalaman Ignatius sendiri menunjukkan bahwa pilihan untuk hidup “di dalam“ batin kita mengubah segala sesuatu dalam kehidupan rohani dan membuka suatu peziarahan baru bersama Tuhan. Maka bagi kita, generasi digital, pilihan untuk berani menjadi sadar secara rohani juga merupakan pilihan awal dan paling dasar untuk bisa menggunakan PPR dalam kehidupan kita. Pilihan ini memang sangat menantang dan mungkin tidak mudah, karena ketergantungan kita pada teknologi digital. Namun kalau dilakukan akan menghasilkan kemampuan membeda-bedakan roh yang sangat diperlukan bagi kemajuan kehidupan rohani. Dengan melakukan pilihan ini kita bisa masuk dalam pedoman-pedoman praktis yang disediakan St. Ignatius dalam PPR I dan PPR II.

dikutip dari : https://psiusd.wordpress.com/2011/07/20/pedoman-pembedaan-roh-st-ignatius-bagi-generasi-digital/

No comments:

Post a Comment